![]() |
| Daun Kelor setelah dikeringkan |
Semua ini bermula dari sebuah status WhatsApp. Sahabat saya, Kang Bugi, sang tangan dingin tanaman yang rumahnya sangat asri-tiba-tiba posting foto daun kering hijau. Isinya singkat saja: "Teh kelor siapa mau? DM aja, ambil ke rumah."
Tanpa babibu, Mas Bojo langsung membalas semangat, "Mau!"
Maklum, kami memang sudah lama punya utang janji buat mampir. Sebelumnya, Kang Bugi ini berkali-kali mengundang untuk mencicipi kopi racikannya yang legendaris itu. Tapi apa daya, dengan amat menyesal, rencana itu selalu batal karena kesibukan kami yang sok padat. Mumpung suasana masih liburan Tahun Baru dan agenda belum "padat merayap" seperti biasanya, inilah waktu yang tepat buat menagih janji!
Teras yang Bikin "Zonk" (Zona Nyaman)
Beberapa hari setelah DM-an itu, singgahlah kami ke rumah beliau. Begitu masuk ke halaman, aroma "ketenangan" langsung menyambut. Sahabat saya ini memang juara kalau soal menata tanaman. Setiap inci rumahnya penuh dengan pot-pot kecil yang ditata apik, mulai dari yang digantung sampai yang berjejer rapi di rak buatan. Saya sampai gagal fokus pada batang pohon yang dililit-lilit dengan tali dari ijuk sebagai gantungan pot-pot tanaman hiasnya.
Cuaca hari itu cukup sejuk, angin semilir lewat membawa dentingan dari deretan wind chimes (genting angin) yang digantung di teras. Ditambah lagi, ada lagu-lagu chill yang diputar pelan dari speaker bluetooth. Hasilnya? Anak saya langsung "tumbang". Dia tanpa malu-malu rebahan di karpet menikmati angin sepoi-sepoi, dan dalam hitungan menit sudah tertidur pulas. Benar-benar zona nyaman yang hakiki!
Bukan Kopi, Tapi "Si Kuning Muda"
"Kopinya libur dulu ya, kali ini harus cobain teh kelor," katanya sambil membawa nampan berisi teko kecil, gelas-gelas mungil, jar air dingin dan 2 toples cemilan kriuk kriuk.
![]() |
| Teh Kelor warnanya kuning muda jernih |
Segera saya tuang, cairannya berwarna kuning muda jernih, bukan coklat dan kehitaman. Baunya segar, seperti aroma alam setelah hujan. "Ini teh kelor yang di status WA kemarin," jelasnya.
Jujur, saya sempat membatin, "Kelor kan biasanya di mangkok sayur bening, kok sekarang naik kelas jadi teh?" Tapi sebagai tamu yang baik, saya seruput pelan. Dan... wow! Rasanya ringan banget. Nggak ada rasa pahit atau getir. Rasanya bersih, earthy, dan bikin tenggorokan terasa plong. Benar-benar minuman yang "zen" banget buat menutup libur tahun baru.
Rahasia di Balik Toples
Sambil ngobrol santai, dia bercerita kalau teh ini adalah hasil keisengannya. Daun kelor itu dia petik sendiri dari pohon di samping rumahnya yang baru aja dipangkas. Setelah dipisahkan dengan sabar antara daun dan batangnya, daun kelor tersebut tidak dijemur di bawah matahari langsung (biar nutrisinya nggak kabur, katanya). Cukup diangin-anginkan saja di tempat teduh sampai layu dan mengering sempurna. Proses yang butuh kesabaran, tapi hasilnya memang sebanding.
Kenapa Harus Kelor?
Iseng-iseng saya cari tahu, ternyata kelor ini memang bukan tanaman sembarangan sampai dijuluki "Pohon Ajaib" (The Miracle Tree). Manfaatnya beneran nggak main-main:
Antioksidan Melimpah: Bagus banget buat detoks badan setelah kita "balas dendam" makan macam-macam pas liburan.
Vitamin Booster: Kandungan vitamin C-nya konon jauh di atas jeruk.
Ramah Lambung: Berbeda dengan kopi yang kadang bikin deg-degan, teh kelor ini justru menenangkan pencernaan.
Nah, ada cerita yang bikin saya makin percaya sama kesaktian daun ini. Dulu, Mas Bojo pernah mengalami sakit asam urat di bagian kakinya sampai sulit jalan. Akhirnya, beliau dibawa ke seorang Pak Ustad untuk di-totok saraf.
Uniknya, Pak Ustad menyarankan media penyembuhan alami menggunakan daun kelor. Caranya simpel tapi manjur: kaki direndam di dalam campuran air hangat, garam krosok (garam dapur yang kasar), dan remasan daun kelor segar. Ternyata, ramuan itu ampuh banget narik "penyakit" dan bikin kakinya enteng lagi. Jadi, selain diminum sebagai teh yang enak, kelor ini memang sudah jadi sahabat setia keluarga kami buat urusan sehat luar-dalam. Wallahu alam.
Cara Nyeduh Teh Kelor
Kang Bugi juga membagikan cara penyajiannya yang sangat praktis. Nggak perlu timbangan digital ala barista kopi.
Rebus air sampai mendidih (sampai blebek-blebek).
Masukkan kurang lebih sejumput daun kelor kering ke dalam cangkir.
Siram dengan air panas, aduk rata. Alangkah bagusnya kalau ditutup untuk mematangkan daun Kelor.
Tunggu sampai airnya berubah menjadi warna kuning muda yang cantik.
Siap diminum sambil menikmati angin sore.
Pulang dengan Energi Baru
Sore itu kami pulang dengan hati yang hangat (dan tentu saja membawa oleh-oleh daun kelor kering di tangan). Liburan tahun baru kali ini ditutup dengan cara yang sangat manis: obrolan hangat, suasana tenang, secangkir kesehatan dari teras seorang sahabat dan rencana-rencana ajaib yang semoga terealisasikan. Terimakasih suguhan dan sambutan hangatnya buat Kang Bugi dan Teh Mia. Reseppp deh hehee



Ah saya mau ikutan bikin juga teh kelor kalau gitu. Ibu saya udah meninggal awal Desember lalu, Minggu besok 40 harinya rencana sama adik saya mau nebang kelor di samping rumah ibu karena udah terlalu besar
BalasHapusTakut tumbang juga karena cuaca buruk sering melanda kampung
Saya mau coba bikin ramuan buat kaki pegal ag pakai daun kelor ini. Dianya bismillah aja. Hehehe
Salam buat Kang Bugi dan Teh Mia. Terakhir ketemu kan waktu tiktokan di sawah itu. Hehehe...
Wah aku juga baru tahu tentang teh kelor ini, ternyata khasiatnya luar biasa. Secara warna, aku jadi keingat saffron yang kualitas terbaiknya (konon dari Iran) tuh muahaal banget. Tapi emang khasiatnya juga luar biasa untuk tubuh. Menyenangkan, bisa silaturahmi sambil menyecap nikmatnya teh kelor. Jadi penasaran sama rasanya.
BalasHapus