![]() |
| Dating tipis bareng anak lanang yang sudah dewasa |
Bandung selalu punya cerita. Kadang karena udaranya, kadang karena makanannya, tapi kali ini — karena pertemuan yang nggak direncanakan terlalu lama, tapi terasa penuh. Saya sedang ada urusan pekerjaan dari Sabtu sampai Senin di kota ini. Agendanya sih santai aja dan sejujurnya nggak ada rencana khusus untuk "jalan-jalan". Tapi ternyata, Mas Tsaka — anak kedua saya — bisa menyempatkan waktu di hari Minggu untuk ketemu.
Setelah sekian lama LDR sebagai ibu dan anak, kesempatan seperti ini terasa lebih dari sekadar “ketemu”. Rasanya kayak narik nafas panjang setelah lama nahan.
Jam 11 siang, Tsaka jemput saya di hotel. Dia datang naik motor, pakai kaos saja tanpa jaket. Saya sempat ngomel kecil kuatir masuk angin mengingat udara kota Bandung yang sulit diprediksi. Sebentar panas, sebentar hujan.
Setelah berdiskusi akhirnya kita putuskan “Mau ke mana ya hari ini?”
Bakso, Kacang Atom, dan Obrolan Ringan
Destinasi pertama kami: Bakso Sunan Giri. Ini pilihan Tsaka. Katanya enak, dan dia udah sering ke sini. Harganya Rp33.000 per porsi, cukup pricey sih buat saya tapi it's okelah sesekali.
![]() |
| Bakso Sunan Giri |
Tapi yang bikin saya nyengir bukan baksonya, tapi kacang atom Garuda yang disediakan — bukan sekadar di meja, tapi literally satu karung. Dijual Rp2.000 aja per sachet. Kami tertawa waktu melihatnya. “Ini buat topping atau buat bekal pulang kampung?” celetuk saya.
![]() |
| Kacang atom Garuda |
Btw saya nggak akan membahas rasa baksonya panjang-panjang — biar food blogger aja yang ulas. Tapi buat saya dan Tsaka, makan siang ini jadi pembuka hari yang menyenangkan. Kami makan pelan-pelan, sambil saling bertanya kabar, cerita soal kerjaan, dan hal-hal sepele yang kadang nggak sempat dibahas saat video call.
Braga, Kopi, dan Cerita Lama
Habis makan, kami lanjut ke kawasan Braga. Niatnya ngopi. Dari beberapa tempat, Tsaka memilih Kopi Tjantel. Saya sendiri belum pernah ke sana, dan sayangnya, kami terlalu tenggelam ngobrol sampai lupa ambil foto sama sekali. Tapi justru itu yang bikin momen ini beda. Nggak ada niat buat “konten”, nggak ada naskah, semua mengalir begitu aja.
Di meja kecil itu, kami berbagi banyak hal. Obrolan mulai dari masa kecil Tsaka, sampai masa lalu saya — yang baru saya berani ceritakan sekarang. Tanpa tekanan. Saya juga minta maaf atas hal-hal yang mungkin dulu terasa kurang buat dia. Termasuk soal perceraian saya dengan ayahnya, dan bagaimana itu memengaruhi rumah yang dia tinggali waktu kecil.
Saya sempat menangis. Bukan karena ingin dramatis, tapi karena akhirnya saya bisa bicara dengan anak saya tanpa embel-embel status. Bukan sebagai “ibu yang harus selalu benar”, tapi sebagai manusia yang kadang juga gagal.
Yang bikin lega, Tsaka mendengarkan. Dengan tenang. Tanpa menyela. Tanpa menghakimi. Tanda bahwa dia sudah tumbuh jadi pribadi yang lebih bijak, lebih lapang. Rasanya kayak ada beban yang lepas dari pundak.
Window Shopping di Tengah Gerimis
Gerimis kecil mulai turun. Kami putuskan nggak pindah lokasi terlalu jauh, dan malah memanfaatkan waktu untuk window shopping di sekitar Braga. Masuk ke toko-toko kecil, nyoba kacamata aneh-aneh, pakai topi lucu, dan akhirnya ketawa ngakak bareng. Ada satu momen saya dibelikan jedai oleh Tsaka. Katanya, “Yang ini pas buat ibu. Rambutnya sekarang udah mulai menipis, jangan pakai yang terlalu besar. Coklat natural gini cocok, elegan.”
Saya terdiam sebentar, lalu tertawa. Rasanya lucu dan haru. Jedai plastik seharga 8 ribuan tiba-tiba terasa seperti hadiah spesial. Karena bukan soal barangnya, tapi perhatian kecil yang menyertainya. Itu yang bikin hati meleleh.
Bacang, Tengkleng, dan Perpisahan yang Tenang
Menjelang malam, Tsaka ngajak makan bacang panas di depan Starbucks dekat Hotel Savoy Homan. Saya masih kenyang, jadi cuma nemenin dia makan. Kami duduk di pinggir jalan, nonton kendaraan lalu-lalang sambil tetap ngobrol santai. Kadang kami tertawa lepas menertawakan kejadian lucu di depan kami. Rasanya kayak kembali ke masa-masa kami dulu, beli jajanan di pinggir jalan.
![]() |
| Tengkleng kambing |
Sesi terakhir malam itu: makan tengkleng di Sego Mbak Lendah, dekat GOR Saparua. Saya sisakan ruang di perut sejak siang untuk bisa ikut makan di sini. Tempatnya sederhana, tapi cukup ramai. Seporsi tengkleng kambing lengkap dengan nasi dan teh panas atau es teh manis dibandrol 40 ribu. Pilihan kami jitu, kuah panas tengkleng dan sifat daging kambing yang panas membuat badan kami terasa hangat.
Jam 11 malam, Tsaka antar saya kembali ke hotel. Dia pamit pulang ke mess, karena Senin pagi harus masuk kerja lagi. Nggak ada peluk haru atau kata-kata manis. Cuma senyum, ucapan hati-hati, dan janji sesampainya di mess harus mengabari ibunya.
Yang Tertinggal dari Hari Itu
Sampai sekarang, saya masih memikirkan hari Minggu itu. Nggak ada itinerary istimewa, nggak ada spot foto instagramable, tapi semuanya berkesan. Kadang, pertemuan yang tidak terlalu direncanakan bisa justru terasa paling jujur. Tanpa target harus bahagia, tapi ternyata memberi rasa yang sulit diulang.
Sebagai orangtua, saya sadar tak semua hal bisa saya perbaiki. Tapi ketika anak sudah tumbuh cukup dewasa untuk duduk dan bicara, rasanya seperti diberi satu kesempatan baru. Bukan untuk menghapus masa lalu, tapi untuk menulis ulang cara kami memandangnya.
Hari Minggu itu bukan liburan. Tapi buat saya, itu healing.





Komentar
Posting Komentar